Welcome to Rodi Hartono's Personal Weblog...!!!
TopBottom
Announcement: Wanna Exchange Links...? Contact Me at: (rudi.stainkrc@gmail.com).
Author: Rodi Hartono Posted at:Selasa, 31 Maret 2009
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit

HAKIKAT MANUSIA DALAM PRAKTEK PENDIDIKAN
Rodi Hartono


A. Hakikat Manusia
Manusia merupakan ciptaan Allah SWT. yang paling istimewa, bila dilihat dari sosok diri, serta beban dan tanggung jawab yang diamanat¬kan kepadanya. Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang per¬buatannya mampu mewujudkan bagian tertinggi dari kehendak Tuhan yang mampu menjadi sejarah (QS. 5:56), mendapat kemenangan. Selain itu manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan (Ismail Rajf i al-Faruqi, 1984 : 37). Syarat itu menyatakan bahwa manusia sebagai kesatuan jiwa raga dalam hubungan timbal balik dengan dunia dan antar sesamanya.
Di samping itu, ada unsur lain yang membuat dirinya dapat meng¬atasi pengaruh dunia sekitarnya serta problema dirinya, yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Kedua unsur ini sebenarnya sudah tampak pada berbagai makhluk lain yang diberi nama jiwa, atau soul, anima dan psyche . Tetapi pada kedua unsur itu, manusia dianugerahi nilai lebih, hingga kualitasnya berada di atas kemampuan yang dimiliki makhluk-makhluk lain itu. Dengan bekal yang istimewa ini, manusia mampu menopang keselamatan, keamanan, kesejahteraan, dan kualitas hidupnya. Selain itu juga manusia merupakan makhluk berperadaban yang mampu membuat sejarah generasinya.
Disisi lain, manusia adalah puncak ciptaan dan makhluk Allah yang tertinggi (QS. 95:4) dengan sebaik-baik bentuk. Keistimewaan ini menye¬babkan manusia dijadikan "Khalifah" atau wakil Tuhan di muka bumi, yang kemudian dipercaya untuk memikul amanah berupa tugas dalam menciptakan tata kehidupan yang bermoral di muka bumi. (Syafi'i Ma'arif, 1995 : 9). Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling mulia karena kesempurnaan bentuk dan kelebihan akal pikiran yang ikut membedakannya dari makhluk lainnya (Al-Syaibany 103). Sebagai konsekuensinya, manusia dituntut untuk berbakti kepada Allah dengan memanfaatkan kesempurnaan dan kelebihan akal pikiran, dan segala kelebihan lain yang telah dianugerahkan kepadanya.
Sejalan dengan keistimewaan dan kelebihan yang dimilikinya itu maka Allah menegaskan dalam al-Quran "bahwasanya tujuan pokok diciptakannya manusia di alam ini adalah untuk mengenal Allah se¬bagai Tuhannya serta berbakti kepadaNya" (Labib dan Maftuh, tt.902). Tujuan ini ditempatkan sebagai yang terpenting dalam hubungan de¬ngan penciptaan manusia selaku makhluk (yang diciptakan). Dengan demikian alur kehidupan manusia yang serasi sebagai makhluk, ada¬lah apabila is dapat mengemban tugas dan tanggung jawabnya dengan tujuan untuk berbakti kepada Sang Pencipta semata. Bukan untuk ke¬pentingan di luar itu.
Jujun Suriasumantri (1978) berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir.Setiap saat dari hidupnya, sejak dia lahir sampai masuk liang lahat, dia tak pernah berhenti berpikir.Manusia mempunyai dimensi keindividualan, kesosialan, kesusilaan, dan keberagaman. Setiap manusia mempunyai potensi untuk mengembangkan dimensi¬ dimensi tersebut melalui daya taqwa, cinta, karsa, rasa, dan karya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Jalaluddin (2003) ,bahwa manusia memiliki demensi; hakikat penciptaan, tauhid, moral, perbedaan individu,sosial,dan ruang dan waktu.
Secara lebih jelas, keistimewaan dan kelebihan manusia, diantara¬nya berbentuk daya dan bakat sebagai potensi yang memiliki peluang begitu besar untuk dikembangkan. Dalam kaftan dengan pertumbuhan fisiknya, manusia dilengkapi dengan potensi berupa kekuatan fisik, fungsi organ tubuh dan panca indera. Kemudian dari aspek mental, ma¬nusia dilengkapi dengan potensi akal, bakat, fantasi maupun gagasan. Potensi ini dapat mengantarkan manusia memiliki peluang untuk bisa menguasai serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sekaligus menempatkannya sebagai makhluk berbudaya.

Perpaduan daya-daya tersebut membentuk potensi, yang menjadi¬kan manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta mampu menghadapi tantangan yang mengancam kehidupannya. Dengan meng¬gunakan kemampuan akalpya, manusia dapat berkreasi membuat ber¬bagai peralatan guna mempertahankan diri dari gangguan musuh dan alam lingkungannya. Selain itu manusia juga mampu berinovasi dan berkarya dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Manusiapun dapat mempertahankan kelangsungan generasinya dari kepunahan, melalui kemampuan nalar dan kreativitasnya.
Manusia bukan hanya merupakan salah satu unsur alam ataupun makhluk yang berkesempatan untuk menggunakannya, tetapi juga se¬kaligus bertugas sebagai khalifah. Tugas yang dibebankan dalam rangka memelihara dan membimbing seluruh makhluk guna mencapai tujuan penciptaannya, yaitu sebagai khalifah Allah. Manusia diberi tugas dan tanggung jawab untuk memelihara nilai-nilai keutamaan dirinya serta keutamaan makhluk ciptaan Allah yang ada di luar dirinya. Namun pada dasarnya pelaksanaan tugas-tugas tersebut tak lepas dari tanggung jawab utamanya, yaitu dalam rangka pengabdian dirinya kepada Allah.

B. Manusia dan Pendidikan
Hubungan antara manusia dengan pendidikan diawali dari perta¬nyaan: "apakah manusia dapat dididik?. Ataukah manusia dapat bertum¬buh dan berkembang sendiri menjadi dewasa tanpa perlu dididik?
Kedua pertanyaan itu sejak lama telah menjadi bahan kajian para ahli didik barat, ya~tu sejak zaman Yunani kuno. Pendapat yang umum¬nya dikenal dalam pendidikan Barat mengenai mungkin tidaknya ma¬nusia dididik terangkum dalam tiga aliran filsafat pendidikan. Aliran¬aliran tersebut adalah nativisme, empirisme, dan kovergensi.
Menurut nativisme, manusia tidak perlu dididik, sebab perkembang¬an manusia sepenuhnya oleh bakat yang secara alami sudah ada pada dirinya. ditentukan Sedangkan menurut penganut empirisme adalah sebaliknya. Perkembangan dan pertum¬buhan manusia sepenuhnya ditentukan oleh lingkungannya. Dengan de¬mikian aliran ini memandang pendidikan berperan penting dan sangat menentukan arah perkembangan manusia (Jalaluddin dan Ali Ahmad Zen, 1996:52).
Adapun aliran ketiga, yaitu konvergensi merupakan perpaduan an¬tara kedua pendapat tersebut. Menurut mereka memang manusia memi¬liki kemampuan dalam dirinya (bakat/potensi), tetapi potensi itu hanya dapat berkembang jika ada pengarahan pembinaan serta bimbingan dari luar (lingkungan). Harus ada perpaduan antara faktor dasar (potensi dan bakat) dan ajar (bimbingan) . Perkembangan seorang manusia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan potensi/ bakat yang dibawanya. Tanpa ada intervensi dari luar (lingkungan) bakat/ potensi seseorang tak mungkin berkembang dengan baik.
Lebih jauh Kohnstamm menambahnya dengan kemauan. Dengan demikian menurutnya, kemampuan seseorang akan berjalan dengan baik dan dapat dikembangkan secara maksimal, apabila ada perpaduan an¬tara faktor dasar (potensi), faktor ajar (bimbingan) serta kesadaran dari individu itu sendiri untuk mengembangkan dirinya. Jadi disamping fak¬tor potensi bawaan dan bimbingan dari lingkungan, untuk mengem¬bangkan diri, seseorang perlu didorong oleh motivasi intrinsik (dorongan dari dalam dirinya).
Ketiga aliran filsafat pendidikan Barat ini menampilkan dua pandang¬an yang berbeda tentang hubungan manusia dan pendidikan. Pertama berpandangan pesimis (nativisme), sedangkan aliran kedua memiliki pandangan yang optimis (empirisme dan konvergensi). Tetapi tampak¬nya dalam perkembangan berikutnya pandangan yang kedua (optimis¬me) lebih dominan. Manusia memang hampir tak mungkin dapat ber¬kembang secara maksimal tanpa intervensi pihak luar, dan oleh sebab itu manusia memerlukan pendidikan.
Adapun filsafat pendidikan Islam meletakkan hubungan manusia dengan pendidikan atas dasar prinsip penciptaan, peran, dan tanggung jawab. Dalam kaitan ini manusia dilihat sebagai makhluk ciptaan Allah yang terikat oleh ketentuan-ketentuan yang telah diatur oleh Penciptanya. Dengan demikian manusia adalah makhluk yang terikat oleh nilai-nilai Ilahiyat, yaitu tatanan nilai yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Manusia pada hakikatnya diciptakan untuk mengemban tugas-tugas pengabdian kepada Penciptanya. Agar tugas-tugas dimaksud dapat di¬laksanakan dengan baik, maka Sang Pencipta telah menganugerahkan manusia seperangkat potensi yang dapat ditumbuhkembangkan. Potensi yang slap pakai tersebut dianugerahkan dalam bentuk kemampuan dasar, yang hanya mungkin berkembang secara optimal melalui bimbingan dan arahan yang sejalan dengan petunjuk Sang Penciptanya.
Mengacu kepada prinsip penciptaan ini maka menurut filsafat pen¬didikan Islam manusia adalah makhluk yang berpotensi dan memiliki peluang untuk dididik. Pendidikan itu sendiri, pada dasarnya adalah akti¬vitas sadar berupa bimbingan bagi penumbuh-kembangan potensi Ilahiyat, agar manusia dapat memerankan dirinya selaku pengabdi Allah secara tepat guna dalam kadar yang optimal. Dengan demikian pendidikan merupakan aktivitas yang bertahap, terprogram, dan berkesinambungan.

C. Kesimpulan
Beberapa pandangan mengenai hakikat manusia tersebut, kalau dianalisis secara mendalam, dapat membantu dalam upaya pemahaman terhadap diri peserta didik. Hakikat peserta didik adalah manusia dengan segala dimensinya seperti diuraikan melalui berbagai pandangan tentang manusia seperti di atas. Manusia adalah sentral dalam setiap aktivitas. Dari pandangan tentang manusia tersebut ada beberapa pengertian pokok yang sangat relevan untuk memahami hakikat peserta didik sebagai subjek belajar. Pengertian-pengertian pokok itu adalah sebagai berikut:

Daftar Pustaka
Jalaluddin dan Abdullah Idi. (1997). Filsafat Pendidikan:Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Jakarta:Gaya Media Pratama
Jalaluddin. (2003). Teologi Pendidikan. Jakarta:Rajagrafindo Persada
Praja, Juhaya S. (2005). Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, Jakarta:Prenada Media
Russell, Bertrand. (2004). Sejarah Filsafat Barat (terjemahan), Yogyakarta:ustaka Pelaj ar

Sa(arn-, Burhanuddin. (1988). Filsafat Manusia (Antropologi Metafisika), Jakarta:Bina Aksara

Sardiman, AM (2004). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta:PT Radja GrOindo Persada

Zais, R, S. (1976). Curriculum Principles and foundation. New York:Harper & Row Publisher

0 komentar:

Posting Komentar